RAPAT ANGGOTA KOMISARIAT (RAK) KE-XVIII KOMISARIAT HASYIM ASY'ARI TRIBAKTI KEDIRI
JADWAL KEGIATAN
| NO | HARI/TANGGAL | ACARA | SUB. PEMBAHASAN |
| 01 | Jum’at, 06 mei 2011 | Ceking Panitia 1 | a. Sosialisasi SK panitia b. Pembacaan Job description Panitia |
| 02 | Rabu, 11 mei 2011 | Ceking Panitia 2 | a. Laporan kerja masing-masing Seksi b. Rencana kerja selanjutnya |
| 03 | Sabtu, 14 mei 2011 | Ceking Panitia 3 | a. Laporan kerja masing-masing Seksi b. Rencana kerja selanjutnya |
| 04 | Rabu, 18 mei 2011 | Ceking Panitia 4 | a. Evaluasi b. Membahas hasil evaluasi yang kurang untuk segera dilaksanakan dan dipenuhi |
| 05 | Kamis, 19 mei 2011 | Mengkondisikan tempat |
| WAKTU | AGENDA | PENANGGUNG JAWAB |
| 13.30-15.00 | OPENING CEREMONY
5. Penutup | OC |
| 15.00-17.00 | Orasi Ilmiah Thema: ‘Urgensi Idealisme Dalam Berorganisasi’
Oleh: Kanda Firhan | SC |
| 16.00-18.30 | ISHOMA | OC |
| 18.30-20.30 | SIDANG PLENO I
| SC |
| 20.30-23.00 | SIDANG PLENO II 1. Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Ketua Umum HMI Koms. Hasyim Asy’ari Tribakti Kediri Periode 2009-2010. 2. Pandangan Umum Dan Evaluasi Terhadap Kinerja Ketua Umum HMI Koms. Hasyim Asy’ari Tribakti Kediri Periode 2010-2011. 3. Pengesahan LPJ Ketua Umum HMI Koms. Hasyim Asy’ari Tribakti Kediri Peirode 2010-2011. | PRESIDIUM SIDANG |
| 23.00-00.30
| SIDANG PLENO III
| PRESIDIUM SIDANG |
| 00.30-02.30 | SIDANG PLENO IV
| PRESIDIUM SIDANG |
| 02.30-SELESAI | CLOSSING CEREMONY | ALL |
Nuh Nilai Pendidikan Karakter Mendesak Diterapkan
"Sekarang ini yang paling mendesak yang harus kita lakukan, adalah pendidikan karakter. Targetnya, semua sekolah harus menggunakan," ungkap Mendiknas M Nuh, saat ditemui di Gedung Kemdiknas, Jakarta, Senin (2/5).
Tema Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini sendiri adalah "Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa", dengan subtema "Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti". Tema ini, kata Nuh pula, mengingatkan kembali pada hakikat pendidikan yang telah ditekankan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantoro.
"Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran, dan jasmani anak didik," ucap Nuh, mengutip perkataan Ki Hajar Dewantoro yang hari lahirnya diperingati sebagai Hardiknas itu.
Pada sambutannya salam upacara peringatan Hardiknas, Nuh pun menekankan pentingnya pendidikan berbasis karakter dengan segala dimensi dan variasinya itu. Di mana menurutnya, karakter yang ingin dibangun bukan hanya berbasis atas kemuliaan diri semata, tetapi juga kemuliaan sebagai bangsa.
"Karakter yang ingin kita bangun bukan hanya kesantunan. Tetapi secara bersamaan, kita bangun karakter yang mampu menumbuhkan kepenasaranan intelektual sebagai modal untuk membangun kreativitas dan daya inovasi," imbuhnya.
Nuh menyampaikan, konsep pendidikan karakter itu sendiri telah disiapkan sejak tahun lalu. Disebutkannya, ada tiga kelompok pendidikan karakter, yaitu tumbuhnya kesadaran peserta didik sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, tumbuhnya kepenasaran intelektual untuk membangun keilmuan, serta tumbuhnya rasa bangga dengan cara berprestasi. "Dari kegemaran berprestasi itu, nanti akan muncul kebanggaan 'We are the Indonesian'," katanya.
Dijelaskan Nuh, bentuk pendidikan karakter tersebut bisa diwujudkan mulai dari kurikulum, sampai dengan membangun kultur budaya di sekolah। "Pendidikan karakter bukan hanya diajarkan melalui papan tulis, tetapi harus melalui pembudayaan. Jangan sampai terjebak hanya di ranah kognitif, tetapi harus diterjemahkan (pula) dalam ranah perilaku," tandasnya. (jpnn)
Martabat Wakil Rakyat
KOMPAS.com — Marilah kita main hitung. Di luar biaya reses dan tunjangan lain, gaji bersih yang diterima anggota DPR per bulan adalah sekitar Rp 57 juta atau Rp 684 juta per tahun. Dalam lima tahun, gaji yang mereka terima adalah Rp 3.420.000.000 (Rp 3,42 miliar). Taruhlah mereka mengeluarkan biaya ”administrasi” pemilu Rp 1 miliar, maka masih ada ”laba” Rp 2.420.000.000 (Rp 2,42 miliar).
Dengan hitungan kasar, kita dapat menyimpulkan: setiap anggota DPR di Senayan hidup supersejahtera. Mereka mempunyai penghasilan per hari minimal Rp 1,9 juta (Rp 57 juta dibagi 30 hari). Bandingan dengan penghasilan rakyat kecil per hari yang berkisar Rp 20.000 hingga Rp 50.000.
Rakyat kecil pun tak kenal uang reses atau tunjangan gaji, tetapi hanya mengenal ”bonus” penderitaan: dari kesulitan menyekolahkan anak, membayar biaya kesehatan, memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang mahal, sampai kesulitan mencari uang itu sendiri. Itu pun, jika tak beruntung, masih mendapat bonus lain: kena ledakan tabung gas atau menjadi obyek penggusuran pasukan polisi pamong praja.
Cita-cita merdesa
Konstitusi kita memiliki tiga kata kunci: melindungi, menyejahterakan, dan mencerdaskan kehidupan rakyat. Amanah konstitusi itu dibebankan kepada (para penyelenggara) negara, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.
Sebagai lembaga legislatif, DPR memiliki tiga tugas pokok: pengawasan, anggaran, dan membuat undang-undang (legislasi). Dengan tiga tugas itu, DPR mendorong terwujudnya kehidupan masyarakat yang terlindungi, sejahtera, dan cerdas atau kehidupan yang memenuhi standar merdesa, yakni sejahtera, patut, dan layak.
Target hidup secara merdesa merupakan impian dasar mayoritas rakyat kita. Hidup sejahtera berarti terjamin hak-hak dasarnya: hak mendapatkan kehidupan layak, mendapatkan pekerjaan, hak mendapatkan pendidikan, hak mendapatkan keamanan, hak mendapatkan pelayanan sosial, hak mendapatkan kebebasan berekspresi, kebebasan memeluk keyakinan/agama, hak mengembangkan diri, dan lainnya.
Patut dan layak berarti sesuai nilai, etika, norma, dan moral yang jadi basis kehidupan bangsa. Jika DPR adalah lembaga perwakilan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, makna ”perwakilan” harus dielaborasi dan diperkaya dengan makna ”pemerdesaan” rakyat. Bobot makna ”pemerdesaan” dapat dijadikan tanggung jawab moral sekaligus orientasi nilai DPR sehingga mereka wajib merasa bersalah, berdosa, dan malu jika gagal memperjuangkan cita-cita hidup merdesa rakyat.
Kita dapat memahami tindakan aktor film Pong Hardjatmo yang menuliskan grafiti ”jujur, adil, tegas” di atas Gedung DPR Senayan. Pong, seperti juga ratusan juta rakyat Indonesia yang lain, geram melihat dan merasakan kinerja anggota Dewan yang ”adem ayem” dan lebih sibuk dengan ”teater retorik” daripada menggelar teater konkret lewat penuntasan berbagai persoalan besar di negeri ini (kasus Bank Century dan lainnya).
Selama ini, para anggota Dewan di Senayan cenderung memaknai upaya-upaya penuntasan berbagai persoalan besar bangsa tak lebih dari kosmetik politik agar bercitra sebagai hero. Namun, ”perjuangan” itu menguap seiring dengan lunturnya kosmetik. Rakyat hanya disuguhi gegap gempita ”teater politik” melalui berbagai media massa. Sesudah teater itu berlalu, rakyat kembali disergap kesunyian yang panjang dan menyesakkan. Ironisnya, untuk semua pergelaran ”teater politik” itu, negara harus mengeluarkan biaya besar!
Teater sosial
Kita tidak berharap negara ini hanya menjadi panggung ketoprak humor yang ”wagu” dan tidak lucu, tempat para anggota Dewan—yang bergaji Rp 1, 9 juta per hari itu—memamerkan kepiawaian seni lakon (acting) demi entertainment politik yang melelahkan dan membosankan.
Teater sosial yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat jauh lebih konkret, spektakuler, dan dramatis; sebuah teater yang muncul dari berbagai kegagalan kebijakan pemerintah terkait hak-hak dasar publik. Teater bertajuk ”Penderitaan Tiada Batas” ini berlangsung dalam setiap tarikan napas rakyat, terutama rakyat jelata.
Masihkah para anggota Dewan tega untuk ”duduk manis”, ”tidur”, dan ”membolos”?
Dengan penuh kepahitan, kita terpaksa mengucap, "Kita membutuhkan wakil-wakil rakyat yang punya martabat". Martabat diukur dari kualitas makna eksistensial melalui kiprah sosial yang penuh komitmen, dedikasi, integritas, dan kapabilitas untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang berperadaban tinggi.
*INDRA TRANGGONO Pemerhati Budaya; Bermukim di Yogyakarta
Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2010/08/03/09315334/Martabat.Wakil.Rakyat-5
FILOSOFIS PENDIDIKAN
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
-
Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi. -
Berfikir secara sistematis. -
Menyusun suatu skema konsepsi, dan -
Menyeluruh.
-
Apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh Metafisika -
Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi. -
Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi Filsafat.
-
Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme humanistis. -
Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme objektif. -
Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi murupakan hakitat yang asli dan abadi. -
Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut) tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan minusia.
-
Sebagai dasar dalam bertindak. -
Sebagai dasar dalam mengambil keputusan. -
Untuk mengurangi salah paham dan konflik. -
Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.
-
Filsafat pendidikan progresivisme. yang didukung oleh filsafat pragmatisme. -
Filsafat pendidikan esensialisme. yang didukung oleh idealisme dan realisme; dan -
Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.
Esensialisme berpendapat bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Esensialisme didukung oleh idealisme modern yang mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia berada.
-
Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato) -
Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles) -
Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)
Pendidikan nasional adalah suatu sistem yang memuat teori praktek pelaksanaan pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh filsafat bangsa yang bersangkutan guna diabdikan kepada bangsa itu untuk merealisasikan cita-cita nasionalnya.
Blog Archive
-
▼
2011
(6)
- ► 07/03 - 07/10 (1)
- ► 06/05 - 06/12 (1)
- ► 05/22 - 05/29 (1)
- ► 05/01 - 05/08 (1)
-
►
2010
(11)
- ► 08/08 - 08/15 (1)
- ► 07/25 - 08/01 (2)
- ► 07/18 - 07/25 (2)
- ► 07/11 - 07/18 (4)
- ► 07/04 - 07/11 (2)