Kategori

Asmaul Husna

Tukar Link

Copy paste link dibawah ini :
Sabtu, 31 Juli 2010

FILOSOFIS PENDIDIKAN

1.  PENGERTIAN FILSAFAT

Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.  
Ciri-ciri berfikir filosfi :

  1. Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi.

  2. Berfikir secara sistematis.

  3. Menyusun suatu skema konsepsi, dan

  4. Menyeluruh.
Empat persoalan yang ingin dipecahkan oleh filsafat ialah :

  1. Apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh Metafisika

  2. Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi.

  3. Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi Filsafat.
Beberapa ajaran filsafat yang  telah mengisi dan tersimpan dalam khasanah ilmu adalah:

  1. Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme humanistis.

  2. Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme objektif.

  3. Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi murupakan hakitat yang asli dan abadi.

  4. Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut) tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan minusia.
Manfaat filsafat dalam kehidupan adalah :

  1. Sebagai dasar dalam bertindak.

  2. Sebagai dasar dalam mengambil keputusan.

  3. Untuk mengurangi salah paham dan konflik.

  4. Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.
2.  FILSAFAT PENDIDIKAN
 
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.
Beberapa aliran filsafat pendidikan;

  1. Filsafat pendidikan progresivisme. yang didukung oleh filsafat pragmatisme.

  2. Filsafat pendidikan esensialisme. yang didukung oleh idealisme dan realisme; dan

  3. Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.
Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks.  Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
3.  ESENSIALISME DAN PERENIALISME
  
Esensialisme berpendapat bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Esensialisme didukung oleh idealisme modern yang mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia berada.
Esensialisme juga didukung oleh idealisme subjektif yang berpendapat hahwa alam semesta itu pada hakikatnya adalah jiwa/spirit dan segala sesuatu yang ada ini nyata ada dalam arti spiritual. Realisme berpendapat bahwa kualitas nilai tergantung pada apa dan bagaimana keadaannya, apabila dihayati oleh subjek tertentu, dan selanjutnya tergantung pula pada subjek tersebut.
Menurut idealisme, nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui atau menyesuaikan diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu mempunyai pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan perasaan senang tak senang mengenai nilai tersehut. Menunut realisme, pengetahuan terbentuk berkat bersatunya stimulus dan tanggapan tententu menjadi satu kesatuan. Sedangkan menurut idealisme, pengetahuan timbul karena adanya hubungan antara dunia kecil dengan dunia besar. Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bertumpu pada nilai- nilai yang telah teruji keteguhan-ketangguhan, dan kekuatannya sepanjang masa.
Perenialisme berpendirian bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum yang telah teruji. Menurut. perenialisme, kenyataan yang kita hadapi adalah dunia dengan segala isinya. Perenialisme berpandangan hahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat dipandang baik.
Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan:

  1. Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)

  2. Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles)

  3. Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)
Adapun norma fundamental pendidikan menurut  J. Maritain adalah cinta kebenaran, cinta kebaikan dan keadilan, kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi serta cinta kerjasama.
4.  PENDIDIKAN NASIONAL
  
Pendidikan nasional adalah suatu sistem yang memuat teori praktek pelaksanaan pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh filsafat bangsa yang bersangkutan guna diabdikan kepada bangsa itu untuk merealisasikan cita-cita nasionalnya.
Pendidikan nasional Indonesrn adalah suatu sistem yang mengatur dan menentukan teori dan pratek pelaksanaan pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh flisafat bangsa Indonesia yang diabdikan demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia guna memperlanar mencapai cita-cita nasional Indonesia.
Filsafat pendidikan nasional Indonesia adalah suatu sistem yang mengatur dan menentukan teori dan praktek pelaksanaan pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh filsafat hidup bangsa "Pancasila" yang diabdikan demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia dalam usaha merealisasikan cita-cita bangsa dan negara Indonesia.



Juara Bukan Segala-galanya

Hampir 6 tahun aku mengikuti kegiatan KARATE, selama itu pula aku telah di tempa dan di bina hingga menjadi seorang atlit.
Senpai-ku telah memberikan apa yang dia mampu untuk mencetak atlit2 tebaik nya…
Dia selalu mengatakan “Juara Bukan Segala-galanya Tapi Berjiwa Mulia itu yang Utama”, pekataan itu selalu terngiang di telinga ku hingga membekas dalam hati.

“Untuk apa kalian berlatih jika mental kalian jelek, percuma, karate bukan tempat orang yang cengeng,sok jagoan, senpai nggak perlu itu.
kalian berlatih pukul ,tendang, banting buat apa ? Buat jadi jagoan, Karate bukan buat itu tapi bisa memahami dan melaksanakan Sumpah Karate. Lebih dari itu tujan akhir dari ini adalah mental baja dengan semangat Bushido supaya Hati kalian Bersih”

setidaknya perkataan itu yang masih ku ingat dengan jelas.

untuk semua Atlit…..
Jangan Berfikir Kita Harus Menang Tapi Befikirlah Kita Harus Bermental Baja…….

Sabtu, 24 Juli 2010

Tak Ijo Royo-Royo Tak Senggo Temanten Anyar

Kanjeng sunan Ampel seakan-akan baru hari ini bertutur kepada kita, tentang kita, tentang segala sesuatu yang kita mengalaminya sendiri, namun tidak kunjung sanggup kita kita mengerti.

Sejak lima abad silam Sair itu telah ia lantunkan dan tidak ada jaminan bahwa kita sekarang sudah faham. Padahal kata-kata beliau mengeja kehidupan ini alfabeta alif ba ta kehilangan sejarah kita dari hari kehari , sejarah tentang sebuah Negri yang puncak kerusakannya pada ketidak sanggupan para penghuninya untuk mengakui bahwa kerusakan itu sudah sedemikian tak terperi.

Menggeliatlah dari matimu tutur sang sunan, siuman dari pingsan berpuluh-puluh tahun, bangkit dari tidur nyenyakmu sungguh negri ini adalah penggalan sorga, sorga seakan-akan pernah bocor dan mencipratkan kekayaan dan keindahannya dan cipratan keindahan itu bernama Indonesia Raya . kau bisa tanam benih kesejahteraan apa saja diatas kesuburan tanahnya yang tidak terkirakan, tidak mungkin kau temukan mahluk tuhanmu kelaparan ditengah hijau bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra ini, bahkan bisa engkau selenggarakan penganten-penganten pembangunan lebih dari yang dicapai negri-negri lain yang manapun. Tetapi kita kita memang telah tidak mensyukuri rahmat sepenggal sorga ini, kita telah memboroskan anugrah tuhan ini melalui cocok tanam ketidak adilan dan panen-panen kerakusan.

Cah Angon-Cah Angon Penekno Belimbing Kui
Lunyu-Lunyu Penekno Kanggo Mbasuh Dodot Iro

Kanjeng sunan Ampel tidak memilih figure misalnya “pak Jendral-pak Jendral” juga bukan intelektual-intelektual, ulama-ulama, seniman-seniman, sastrawan-sastrawan atau apapun tetapi cah angon-cah angon, belia juga menuturkan penekno belimbing kui bukan “penekno pelem kui”, penekno sawo kui, bukan penekno buah yang lain tapi belimbing, bergigir lima, terserah apa tafsirmu mengenai lima, yang jelas harus ada yang memanjat pohon licin itu, lunyu-lunyu penekno agar belimbing bisa kita capai bersama dan yang harus memanjat adalah bocah angon “anak gembala” tentu saja ia boleh seorang Doctor, seorang Kiyai, seorang Seniman, seorang Jendral atau siapapun namun ia harus memiliki daya angon ‘daya menggembala” kesanggupan untuk mengemong semua fihak, karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja sesama saudara sebangsa, determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian, bersama memancarkan kasih sayang yang diterima dan dibutuhkan oleh semua warna semua golongan, semua kecenderungan “bocah angon adalah pemimpin nasional” bukan tokoh golongan atau pemuka semua gerombolan, selicin apapun pohon-pohon tinggi revormasi ini sang bocah angon harus memanjatnya, harus dipanjat sampai selamat memperoleh buah, bukan ditebang, dirobohkan atau direbutkan agar mendapatkan sari pati, sari pati lima belimbing ini dibutuhkan untuk mencuci pakaian nasionalnya, pakaian adalah akhlaq, pakaian adalah sesuatu yang menjadikan manusia bukan binatang, pakaian adalah pegangan nilai landasan moral dan system nilai. System nilailah yang harus kita cuci dengan pedoman lima.

Minggu, 18 Juli 2010

50 Miliar Rupiah : Job, Career, and Calling

Work Orientatation:

Job, Career, and Calling. ( Kerja, Karier, atau Panggilan.)

Apapun yang anda lakukan dalam kegiatan sehari hari, yang biasa kita sebut dengan kerja, ada 3 tipe orientasi yang berbeda yang dapat anda amati.

Job: Kegiatan sehari hari sebagai “kerja”. Kerja, motivasinya adalah uang, baik berupa gajih, bonus, atau keuntungan bisnis. Bekerja dianggap sebagi tugas dan beban, yang diharapkan adalah selesainya tugas itu. Yang ditunggu adalah hari gajihan dan libur akhir pekan. Ini membahayakan diri menjadikan kita sebagai robot yang produktip, tanpa arti kehidupan, tanpa kenikmatan. Tujuan utama penyelesaian tugas. Menderita dalam perjalanan tidak apa2 asalkan diujungnya ada uang. Uang motivasi utama.

Career: Ada yang melihat kegiatan sehari hari sebagai “karier”. Hidup sebagai sebuah lomba untuk secepatnya naik pangkat. Mendapatkan jabatan yang lebih baik, entah diperusahaan ini atau perusahaan lain yang bersedia membajak anda. Yang diinginkan adalah harga diri, hormat dari kolega dan anak buah. Yang ditunggu naik pangkat, naik jabatan, naik tunjangan. Kapan menjadi manager, direktur atau komisaris. Mencari ujung kebahagiaan dalam karier, kerja keras untuk itu, dan setelah tiba disana, akan ada upaya pencapaian baru, sebuah gunung baru untuk ditaklukkan.

Calling: Kegiatan sebagai “panggilan”. Disini kegiatan dianggap sebagai kenikmatan. Bekerja sebagai bagian dari passion, gairah kehidupan, dan sebagai sebuah kesempatan untuk berkarya, merealisasikan jati diri. Tanpa dibayarpun anda mau mengerjakannya dengan sebaik baiknya. Harapannya adalah dapat mengerjakan sebaik baiknya untuk kebaikan umat manusia. Apa yang diharapkan bila pekerjaan itu telah selesai? Ya pekerjaan baru lagi sebagai tantangan dan kenikmatan baru.

Tentu tidak semua kegiatan sehari hari dapat dikelompokkan secara eksklusif sebagai salah satu dari 3 hal diatas, karena bisa saja merupakan gabungan dari 2 atau ke 3 konsep diatas. Tapi tipe apa yang paling dominan dalam anda melihat kegiatan kerja anda?

Kata Khalil Gibran, bekerja dengan cinta itu seperti menyulam kain dari benang2 yang keluar dari jantungmu, untuk membuat pakaian kekasihmu. (It is to weave the cloth with threads drawn from your heart, even as if your beloved were to wear that cloth.) Adakah kenikmatan dan cinta pada pekerjaan kita?

Dengan menginjak bumi dan menggapai langit kita tetap pada prinsip bisnis adalah sebuah alat mencapai keuntungan (menginjak bumi), kitapun harus memiliki idealisme untuk menikmati pekerjaan kita dan menjalankan sesuai dengan nurani dan jiwa kita (menggapai langin).

Ada sebuah test sederhana yang dapat anda coba pikirkan: Bayangkan, bilamana anda mendapat hadiah undian uang sebesar Rp. 50 milliar, apakah anda masih akan mau tetap mengerjakan pekerjaan seperti yang sekarang anda kerjakan? (Walau mungkin dengan kenyamanan yang berbeda) Bila jawabnya anda tetap mau, maka berbahagialah anda, karena pekerjaan anda sekarang, sebagian atau seluruhnya, adalah panggilan hidup anda.

Nah, Bagaimana status pekerjaan anda sekarang? Salam sukses selalu.
www.facebook.com/tanadisantoso3